Anak Anda Unik !

Untitled-1-01Suatu ketika, para binatang memutuskan untuk melakukan sesuatu yang berarti guna mengantisipasi masalah-masalah dalam dunia yang baru. Karena itu mereka menyelenggarakan sekolah. Mereka mengadopsi kurikulum kegiatan yang terdiri dari lari, memanjat, berenang, dan terbang. Supaya lebih mudah mengaturnya, setiap binatang harus melakukan semua kegiatan itu. Bebek sangat pintar berenang, namun ia hanya pas-pasan dalam aktifitas terbang dan sangat jelek dalam aktifitas lari. Karena larinya jelek, maka bebek harus berhenti renang dan tetap tinggal di sekolah untuk berlatih lari. Akibatnya, selaput kaki bebek luka, sehingga nilai renangnya tidak begitu bagus lagi. Kelinci mula-mula berada di puncak prestasi dalam latihan lari, tetapi otot kakinya menjadi kram karena harus menaikkan nilai berenangnya. Tupai ahli memanjat, tetapi ia frustasi dalam kelas terbang karena sang guru menyuruhnya melayang dari tanah ke atas, bukan dari atas pohon ke bawah seperti yang terampil dilakukannya. Ia mengalami kejang kaki karena latihan terlalu keras. Karena itu tupai hanya mendapat nilai C dalam pelajaran memanjat dan nilai D dalam pelajaran lari. Burung rajawali adalah anak bermasalah, dan harus didisiplin dengan keras karena tidak mau mengikuti aturan kebanyakan. Dalam kelas memanjat, ia memang mengalahkan semua binatang untuk mencapai puncak pohon, tetapi ia memaksakan caranya sendiri untuk sampai ke sana.

Chuck Swindoll, dalam bukunya Standing Out memaparkan ilustrasi di atas untuk menggambarkan betapa setiap ciptaan memiliki karakter yang unik sehingga ia menjadi sempurna secara alami. Sebaliknya, bila ia dipaksa menjadi bentuk yang tidak sesuai justru tidak mendatangkan kebaikan.

Demikian juga seorang anak. Seperti sidik jari, tiap anak unik dalam caranya yang spesial. Mereka unik dalam kemampuan, kesukaan, juga dalam merasa, berpikir, dan berinteraksi dengan orang lain. Sebagaimana yang dikatakan oleh Charles Swindoll “Setiap anak yang dipercayakan Tuhan kepada kita memiliki seperangkat kecenderungan atau ciri yang telah ditetapkanNya. Kecenderungan itu ditetapkan dan ditentukan sebelum ia dipercayakan dalam pemeliharaan kita”.

Ada anak yang selalu mendapat nilai baik dalam pelajaran science, sementara anak yang lain mampu menghasilkan karya lukis yang indah.

Ada anak begitu tertariknya dengan otomotif sehingga ia mampu membedakan dengan baik berbagai jenis mobil, sementara yang lain menghabiskan waktu luang berjam-jam untuk mengamati dan mengumpulkan berbagai jenis daun-daunan di pekarangan rumahnya.

Ada anak yang senang duduk dan bermain sendiri berjam-jam, sementara yang lain gelisah jika tidak ada orang lain di dekatnya.

Ada anak yang bisa membaca buku selama sejam tanpa merasa bosan, sedang yang lain selalu bergerak tanpa merasa lelah.

Ada anak mudah akrab dengan orang lain, sebaliknya ada yang cenderung tidak nyaman dengan kehadiran orang yang baru dikenalnya.

Hanya dengan memahami dan menghargai keunikan yang Tuhan berikan kepada mereka, kita dapat memaksimalkan nilai keunikan itu. Raja Salomo dalam tulisannya di kitab Amsal berkata,”Educate the child according to his own way”. Kenali siapa anak kita. Dengannya, kita akan lebih mampu berkomunikasi, mendisiplinkan, memotivasi, dan membimbingnya mencapai keberhasilan dalam hidup.

Keunikan ini yang menjadikan tugas sebagai orang tua menjadi sangat menarik, namun juga membuat frustasi. Sebagai orang tua, kita memiliki harapan-harapan tentang akan menjadi seperti apa anak kita, apa yang akan menarik minat mereka, bagaimana performansi akademik mereka, ataupun pekerjaan yang akan mereka pilih kelak.  Kita meyakini bahwa itulah yang terbaik buat mereka.

Sulit sekali rasanya, bila ternyata realita yang kita hadapi berbeda. Kita khawatir anak-anak kita akan mengalami kesulitan ataupun kegagalan bila berada di jalur yang berbeda dengan apa yang kita tetapkan. Kadang kita dibutakan oleh rasa cinta kita terhadap mereka sehingga justru membatasi kesempatan-kesempatan mereka.

Namun sesungguhnya, jika kita tidak berusaha memahami anak kita sebagai pribadi yang unik, kita beresiko membesarkan seorang anak yang tidak nyaman dengan dirinya, yang tidak dapat menghargai keberadaan dirinya. Justru ini dapat menghambat keberhasilannya dalam hidup.

Menerima perbedaan memang tidak mudah. Secara alamiah manusia cenderung menolak perbedaan. Karenanya memang butuh usaha yang terus menerus untuk bisa menerima, menghargai perbedaan anak-anak kita. Bila kita merasa keunikan anak kita begitu sulit untuk kita terima. Atau bila anak kita begitu berbeda dengan kita, ingatlah mereka  dipercayakan Tuhan kepada kita dengan tujuan yang khusus. Untuk mengajar kita. Untuk membentuk kita. Untuk membuat kita bertumbuh.

Sepanjang hidup kita sebagai orang tua, kita akan selalu belajar. Ini adalah sekolah kehidupan kita. Ada saat kita mendapat nilai yang baik, ada saat kita mendapat nilai yang buruk. Namun, bila kita tetap mengisi hati kita dengan kasih yang besar, keinginan untuk terus belajar, dan keteguhan hati untuk tidak menyerah, kita akan lulus dengan baik. Kita mungkin tidak mencapai nilai cum laude, pada hari kelulusan itu.  Tidak apa-apa, tidak ada yang dapat mencapai nilai cum laude, dan memang tidak perlu mencapai nilai cum laude. Kita sudah belajar, kita sudah bertumbuh, dan kita sudah berbuah baik.

 

 

 

 

Comments are closed.