Sekolah Kristen IPEKA » Rubrik Orang Tua » HELP!! Anakku mulai menggunakan teknologi, Gimana yaa??

HELP!! Anakku mulai menggunakan teknologi, Gimana yaa??

children-sedentary-back-painPerkembangan teknologi yang ada, membawa manusia kepada zaman yang menawarkan kemudahan dalam mendapatkan Informasi. Baik melalui media elektronik maupun media cetak. Hal-hal ini harus disadari oleh orang tua membawa berbagai macam dampak untuk anak-anak. Di satu sisi, anak-anak akan lebih mudah mendapatkan informasi dan membangun pemahamnnya mengenai sebuah materi pelajaran/sebuah konsep. Di sisi lain, perkembangan ini tidak hanya menyajikan informasi yang akurat, namun juga informasi-informasi yang kurang akurat dan disajikan demi kepentingan yang kurang tepat dan pada tempat yang kurang pas atau dijadikan sebagai media untuk menyalurkan emosi negatif. Contohnya, kasus-kasus penculikan yang katanya dipengaruhi oleh pertemanan di salah satu jejaring sosial. Ada lagi, kasus adu argumen melalui status di sebuah situs pertemanan. Pernahkan anda membayangkan jika anak anda yang menjadi korban dari hal ini?

Jauh sebelum perkembangan teknologi, orangtua sebenarnya juga sudah perlu mewaspadai sarana teknologi dan media yang sering digunakan. Misalnya saja, televisi. Program yang disajikan, seringkali sarat makna tersirat hal-hal yang kurang baik secara moral dan menjurus pada pesan edukasi seksual dengan cara yang kurang tepat. Mari kita renungkan, bagaimana mengenai media-media yang ada di sekitar kita? Pernahkah anda menonton atau secara tidak sengaja menonton berita atau cerita bersambung di televisi? Pernahkah anda perhatikan, bahwa cerita-cerita ataupun berita-berita yang disajikan kini mengandung pesan seks tersirat di dalamnya? Seorang artis wanita tinggal serumah dengan lawan jenis tanpa menikah, seorang ayah memerkosa anaknya sendiri, di dalam cerita bersambung ada disajikan adegan pemerkosaan, poligami dan masih banyak yang lainnya.

Pengetahuan seksual yang disediakan oleh media, tidak dapat disamakan dengan pengetahuan yang diberikan oleh orang tua, guru, atau para ahli. Media memang menyediakan informasi, namun, informasi ini belum tentu tepat cara penyampaiannya dan belum tentu benar adanya. Dalam kitab 2 Samuel 13, diceritakan mengenai kisah Amnon yang memperkosa Tamar. Yang menarik di sini adalah, Amnon menerima masukana untuk mendekatia Tamar dari Yonadab (sahabatnya) dan melakukannya. Dapat kita tarik kesimpulan bahwa, jika orang tua tidak mampu memberikan atau menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh anak, maka, anak akan mendapatkan informasi dari media lain, yang belum tentu dapat dijamin kebenarannya.

Dapat kita lihat bahwa media internet memberikan kemudahan akses informasi 24 jam. Kapanpun kita membutuhkan sebuah informasi, istilahnya dalam satu klika kita sudah dapat menemukan informasi tersebut. Bagaimana dengan informasi mengenai seksual? Pada saat penulis sedang dalam tahap mengerjakan artikel ini, beberapa kali penulis mencari artikel di internet. Dan beberapa kali itu pulalah, penulis menemukan ada banyak sekali iklan yang berisikan kalimat-kalimat ingin kenal saya? Klik! atau iklan obat-obatan untuk orang dewasa yang berada pada situs web penyedia layanan berita. Lebih parahnya lagi, jika anda menggunakan mesin pencari (search engine) untuk sebuah kalimat yang tidak mengarah pada konteks seksual (netral) pun terkadang hasil yang didapatkan bisa saja terkandung muatan-muatan seksual di dalamnya.

Bagaimana jika anak anda yang mendapatkan informasi-informasi tersebut? Bagaimana jika sebenarnya, anak anda adalah anak yang baik, yang mungkin saja berada pada saat yang kurang tepat, misalnya, dikirimi e-mail salah alamat oleh orang lain yang berisi pesan-pesan atau gambar-gambar yang mengarah pada konteks seksual? Bagaimana jika anak anda memiliki rasa ingin tahu yang besar, yang sebenarnya berada pada konteks yang baik, kemudian melihat iklan-iklan yang berisi muatan seksual seperti yang telah saya jabarkan di atas? Mungkin ia tidak bermaksud untuk melihat/mengingat hal tersebut, namun, jejak-jejak ingatan tersebut masih akan tetap berbekas di dalam memori mereka; karena pada dasarnya manusia memiliki otak yang lebih hebat dari komputer. Dalam sekali lihat, manusia dapat saja mengingat apa yang telah ia lihat itu seumur hidupnya.

Hal ini mengisyaratkan bahwa berbagai gambar, film, musik, maupun teks jika tidak disaring dapat menjadi pengaruh buruk bagi pikiran anak kita. Dalam Filipi 4:8, telah diperingatkan bahwa kita harus memikirkan segala sesuatu yang baik dan indah, bagaimana bisa kita berpikir mengenai hal-hal yang baik, jika pikiran kita terus dicekoki oleh hal-hal yang tidak baik? Kita ambil contoh mengenai kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh anak di tingkatan sekolah menengah pada seorang anak usia sekolah dasar. Pada saat ditanyakan oleh seorang polisi, dia menyatakan bahwa dirinya baru saja menonton film porno melalui internet. Ini adalah sebuah peringatan bagi orang tua.

Perlu peran aktif orang tua, baik ayah maupun ibu guna membatasi anak dari bukan saja website-website yang memiliki rating 17+, namun juga game online, group di media sosial, film atau bahkan halaman di facebook dapat berisi muatan-muatan seksual yang kurang tepat. Caranya? Kita tidak dapat membatasi perkembangan teknologi itu sendiri atau menyalahkan media. Karena teknologi pada dasarnya diciptakan untuk mempermudah manusia dalam mengakses informasi, namun ada beberapa orang yang menyalah-gunakannya. Jadi apa dong yang harus dilakukan orang tua? Ada beberapa action atau cara yang dapat digunakan oleh orangtua.

1. Kuasai diri sendiri, jadi teladan

Dr. Andik Wijaya, dalam bukunya “Equipping Parents to Fight for Sexual Holinessa” meminta para orang tua agar tidak membeli video porno dan menontonnya. Ingatkah anda mengenai sebuah iklan di televisi yang menggambarkan seorang anak meniru setiap tindak tanduk ibunya pada saat memasak, dan dalam iklan yang lain, anak mengikuti ayahnya membaca koran, dengan gaya yang persis sama. Firman Tuhan dalam kitab Titus 2:1-10, juga telah menjabarkan mengenai keteladanan. Dalam ayat ke 6-8, dipaparkan: Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu, Jika anda tidak dapat menguasai diri anda sendri dan menjadi teladan dalam kehidupan anak-anak anda, hal apakah yang dapat anak teladani dari anda? Saya teringat akan seorang teman saya ketika bersekolah di SMP. Ia ketahuan merokok, kemudian diberi surat peringatan. Pada saat ayahnya menegur dan memarahinya karena ia merokok, teman saya ini berkata ah, papa juga ngerokok kan? Kenapa aku ga boleh?. Ilustrasi ini menggambarkan Firman Tuhan dalam kitab Titus yang telah saya paparkan di atas.

2. Pererat hubungan dengan anak anda.

Jika anda memiliki hubungan yang baik dan erat dengan anak anda, anda akan mengenal siapakah anak anda, dan hal ini akan mempermudah anda untuk memperlengkapi anak anda tersebut dalam menghadapi tantangan zaman (dalam hal ini, pendidikan seksual). Caranya? Milikilah waktu khusus dengan anak, walaupun hanya untuk mengobrol atau bertukar pikiran, dan berusahalah untuk mengerti anak anda. Jika anda memiliki kedekatan dengan anak anda, anda akan lebih mengenal karakter anak anda, dan akan jauh lebih mudah bagi anda untuk memperlengkapi anak anda jika dengan cara sesuai. Yang perlu dicatat, cara yang digunakan pun harus sesuai dengan karakter anak anda serta dengan cara yang dapat diterima anak, bukan membentak/mengancam (pada anak yang lebih kecil usianya), atau menggurui/mengancam (pada anak yang lebih besar-remaja).

3. Perluas pengetahuan mengenai perkembangan teknologi yang ada.

Hal ini termasuk juga istilah-istilah yang digunakan, baik dalam konteks teknologi itu sendiri maupun istilah yang sering anak anda gunakan. Jangan sampai, anda tidak memiliki pengetahuan mengenai teknologi apa yang anak gunakan. Apa sih internet itu, bagaimana cara menggunakannya? Trend game apa yang dimainkan anak, apa temanya dan cara mainnya? Film apa yang sedang nge-trend pada anak sebayanya? Aplikasi handphone yang sedang disukai anak-anak? Jangan malu untuk bertanya pada anak anda.

4. Pilih apa yang perlu mereka lihat!

Kita, sebagai orang tua mungkin tidak selalu dapat memonitor segala aktivitas anak di internet. Namun, ada baiknya orang tua menggunakan child lock atau program untuk memfilter situs website. Setidaknya ada dua jenis software pengaman untuk dapat memonitor kegiatan anak di dunia maya (Parenting Indonesia: Bahaya Canggihnya Teknologi, 2010). Pertama, software pemblokir. Orangtua dapat membuat daftar situs web yang dapat diakses dan memblokir akses ke situs tertentu. Kedua, software perekam. Piranti lunak ini merekam semua data yang dikirim, diterima, di-download, atau dilihat. Sebagai contoh, anda dapat mengunduh software dari website: www.k9webprotection.com, secara gratis untuk mendapatkan kedua fungsi dari software pengaman ini.

5. Pindahkan letak komputer/televisi di tempat yang lebih dapat terawasi oleh orang tua

Zaman sekarang, pada umumnya anak telah memiliki fasilitas media pribadi (spt. Televisi, komputer yang langsung terkoneksi dengan internet, dll) di dalam kamarnya. Tetapi, tahukah anda bahwa hal ini dapat menjadikannya lebih senang berada di kamarnya ketimbang berinterkasi dengan anda saat waktu luang? Pernahkah anda berpikir atau memonitor kegiatan anak anda saat waktu luang di dalam kamarnya? Ada baiknya, komputer diletakkan di tempat yang dapat lebih terawasi oleh orang tua. Letakkan komputer menghadap ke tembok misalnya di ruang keluarga. Atau jika hal ini tidak dapat dilakukan, orang tua dapat memindahkan letak komputer anak di dalam kamarnya membelakangi pintu masuk kamar.

6. Berikan jadwal untuk anak menggunakan komputer/internet

Buatlah kesepakatan jadwal atau waktu maksimal penggunaan internet di rumah. Misalnya, dalam satu hari anak diperbolehkan mengakses internet tidak lebih dari dua jam. Jika ia melewati batas waktu, jangan berikan toleransi. Minta ia segera matikan komputernya. Hal ini perlu disepakati oleh anda dan anak. Berikan pengertian padanya bahwa kesepakatan ini bukan untuk membatasi kesenangannya, tetapi untuk lebih memperluas kesenangannya dengan cara lain seperti berinteraksi dengan teman-temannya serta keluarganya secara langsung.

7. Handphone

Jika anak anda meminta anda untuk membelikannya sebuah handphone, jangan menerima alasan iya, soalnya kan teman-temanku di sekolah pada pakai! Masa aku ga pakai?. Ajaklah ia berdiskusi apakah ia betul-betul membutuhkannya? Handphone dengan fitur apa yang ia butuhkan? Lihat kebutuhannya, dan berikan pengetahuan padanya. Tentunya, anda juga harus memiliki pengetahuan mengenai hal ini.

Comments are closed.