Sekolah Kristen IPEKA » Rubrik Orang Tua » Maximize Your Potential

Maximize Your Potential

potensi anak

Kita semua tentu tahu bahwaTuhan meletakkan potensi-potensi khusus dalam diri kita masing-masing. Setiap orang memiliki potensi yang berbeda. Beberapa orang terlihat luwes dalam berbicara di muka umum, sebagian lainnya tampak cermat dalam berbisnis, beberapa orang lain memiliki kemampuan seni yang cemerlang, dan masih banyak potensi-potensi yang berbeda-beda dalam diri setiap orang. Beberapa orang kemudian berhasil mengembangkan potensi yang mereka miliki hingga optimal, hingga kemudian potensi tersebut dapat turut dirasakan oleh orang lain. Sebut saja misalnya Mozart, Thomas Alva Edison, dsb. Akan tetapi, beberapa orang lainnya tampak mengembangkan potensinya dengan kurang optimal, hanya sekedarnya. Misalnya, seorang pelukis yang terus menerus menggunakan teknik melukis yang sama tanpa berusaha mengeksplorasi teknik lainnya. Atau contoh lainnya, seorang pengusaha yang tidak berusaha mempelajari sistem penjualan yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman. Akhirnya, pelukis dan pengusaha tersebut kurang membuahkan hasil yang maksimal, perkembangan potensi mereka seolah-olah hanya “berjalan di tempat”, bukan maju.

Mari kita lihat, apa yang Tuhan katakan tentang potensi yang Ia berikan.  Dalam Matius 25: 14-30, terdapat perumpamaan tentang seorang Tuan yang menitipkan talenta pada 3 orang hambanya. Masing-masing 5 talenta, 2 talenta, dan 1 talenta. Hamba yang dititipkan 5 talenta mengelola talenta tersebut hingga bertambah lagi 5 talenta. Begitu juga dengan hamba yang dititipkan 2 talenta, ia mengelola talenta tersebut dan bertambah lagi sebanyak 2 talenta. Namun tidak demikian dengan hamba yang dititipkan 1 talenta. Ia hanya menyimpan talenta tersebut, sehingga tidak bertambah banyak. Dalam perumpamaan tersebut, dikisahkan bahwa Sang Tuan kecewa terhadap hamba yang dititipkan 1 talenta tersebut. Akhirnya, Sang Tuan mengambil kembali 1 talenta milik hambanya.

Talenta dalam perumpamaan di atas menggambarkan potensi yang Tuhan berikan. Belajar dari perumpamaan tersebut, kita tentu tidak ingin seperti hamba yang dititipkan 1 talenta. Kita ingin bisa seperti hamba dengan 5 talenta, mampu mengelola talentanya, dan membuahkan banyak hasil. Namun, apakah mengoptimalkan potensi diri adalah suatu hal yang mudah untuk dilakukan?. Seringkali, ketika kita melihat seseorang yang mampu mengoptimalkan potensinya, kita kemudian merasa iri pada keberhasilan yang ia capai. Kita merasa bahwa Tuhan lebih memberkati kehidupannya dibandingkan kehidupan kita. Kita hanya mampu melihat hasil yang ia capai tanpa mau belajar dari proses yang telah ia jalani. Padahal, perjalanan seseorang dalam mengoptimalkan potensinya bukanlah hal yang sederhana. Dibutuhkan banyak konsistensi, kerja keras, perencanaan, dan beberapa kegagalan. Dibutuhkan keteguhan hati untuk kembali bangkit setiap kali kita merasa gagal.

Terdapat beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mengoptimalkan potensi yang kita miliki:

1. Kenali tipe kepribadian kita

Dengan mengenal dan memahami kepribadian diri, akan lebih mudah bagi kita untuk memahami kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Dengan begitu, kita akan mengenal, hambatan-hambatan apa saja yang berpeluang muncul dari dalam diri kita dalam proses kita mengoptimalkan potensi. Misalnya, beberapa tipe kepribadian memiliki hambatan berupa rasa mudah merasa gagal, atau mudah bosan, dan beberapa hambatan lainnya. Mengenal hambatan dari dalam diri akan membantu kita mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan terjadi nantinya. Selain hambatan, mengenal kepribadian diri juga menolong kita memahami kekuatan dari dalam diri yang kelak dapat membantu kita dalam mengoptimalkan potensi diri.

2. Kenali potensi diri kita

Mengenal potensi diri dapat dilakukan melalui berbagai cara, tes bakat minat dan konsultasi dengan psikolog dapat turut membantu kita mengenal potensi diri. Kita juga dapat menelusuri dari hobby kita sehari-hari, atau jenis aktivitas yang banyak kita piliih untuk mengisi waktu luang.

3. Tidak pernah berhenti belajar

Manusia adalah makhluk pembelajar. Ketika kita berhenti belajar, maka di saat itu juga kita sedang perlahan-lahan mematikan potensi yang kita miliki. Kita dapat belajar melalui banyak hal, melalui buku, televisi, internet, kehidupan sehari-hari, orang-orang di sekitar kita, dan sebagainya. Mengikuti kursus dan training/pelatihan juga dapat menjadi cara yang baik untuk belajar. Dengan terus belajar, kita dapat terus mengeksplorasi berbagai hal yang berkaitan dengan potensi kita.

4. Membuat target jangka pendek dan jangka panjang

Jika membuat target jangka panjang dirasa sulit, kita dapat mulai dengan membuat target jangka pendek. Misalnya, seseorang yang memiliki bakat memasak, menargetkan bahwa dalam bulan ini ia dapat memasak steak. Sambil menjalankan target jangka pendek, kemudian kita belajar menyusun target jangka panjang. Penyusunan target akan terus memaksa kita untuk mengasah potensi kita.

Di atas adalah beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mengembangkan potensi kita. Dalam proses kita mengasah potensi, akan terdapat banyak kendala yang kita hadapi. Sama seperti ketika kita menanam pohon, pohon tersebut tidak selalu bertumbuh seperti yang kita harapkan. Mungkin nantinya terdapat hama yang harus kita singkirkan, atau mungkin cuaca yang sedang tidak baik. Namun satu hal yang pasti, setiap kendala akan memaksa kita untuk belajar mengatasi masalah. Setiap kali kita belajar mengatasi masalah, kemampuan kita otomatis juga bertambah. Pada dasarnya, hal itulah yang Tuhan inginkan dari kita. Ia lebih menginginkan usaha dan proses dibandingkan hasil. Tuhan ingin kita menghargai setiap potensi yang Ia berikan. Ia ingin kita berusaha mengoptimalkannya, bukan untuk kepentingan kita sendiri, tapi supaya bisa menjadi berkat bagi orang lain. Hingga pada akhirnya nanti, kita dapat mendengar Tuhan berkata “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaKu yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan Tuanmu”. Maka yang terpenting bukanlah menjadi orang sukses di mata dunia, melainkan, apakah kita sungguh-sungguh telah bertanggung jawab terhadap setiap potensi yang Tuhan berikan.

Nirmala Sari, S.Psi.

IPEKA Counseling Center

Comments are closed.