Sekolah Kristen IPEKA » Rubrik Orang Tua » Mitos Tentang Pendidikan Seks

Mitos Tentang Pendidikan Seks

Point media sosial untuk pendidikan seks-01

Orangtua dan anak harusnya dapat membicarakan seks dengan baik. Namun kenyataannya, seks merupakan topik yang jarang dibicarakan. Pandangan yang keliru tentang seks membuat orangtua kurang nyaman, risih, dan takut untuk membicarakan seks. Karena itu, perubahan pandangan tentang seks akan membantu orangtua dan anak untuk membicarakan seks dengan lebih baik.

Berikut ini beberapa pandangan yang keliru tentang seks:

1. Seks adalah masalah yang tabu.

Dalam kitab Kejadian 1:27-31, Allah melihat segala yang dijadikan-Nya sebagai sesuatu yang sungguh amat baik, termasuk di dalamnya adalah seks. Allah memandang seks sebagai sesuatu yang kudus. Jadi pembicaraan mengenai seks seharusnya menjadi pembicaraan yang kudus. Contoh pembicaraan seks yang kudus adalah pembicaraan seks yang tidak sebagai ejekan, guyonan, sumpah serampah, ataupun hal-hal yang negatif. Pembicaraan seks yang kudus seharusnya adalah pembicaraan yang wajar seperti halnya membicarakan kesehatan, topik tata karma, ataupun kehidupan sehari-hari.

2. Pendidikan seks adalah tanggung jawab dari sekolah ataupun gereja.

Banyak orangtua menyerahkan pendidikan seks secara total kepada gereja atau sekolah. Hal ini keliru karena sekolah atau gereja seringkali hanya membahas seks dalam seminar, workshop, ataupun mata pelajaran tertentu. Bayangkan seks hanya dibahas satu kali setahun. Hal ini tentu tidak cukup membantu anak memahami seks secara sehat. Akhirnya, banyak anak mencari pemahaman seks lewat internet dan teman. Perlu disadari bahwa orangtua bertanggung jawab dan memiliki porsi yang paling besar untuk menanamkan pemahaman seks secara sehat. Pemahaman seks perlu diberikan di kehidupan sehari-hari dan perlu keteladanan, dari orangtua. Hasil survei di Konferensi Tahunan ke-88 Canadian Pediatric Society, 45 % remaja menjadikan orangtua sebagai role model dalam hal seksualitas (Metro Tv News, 2011). Karena itu, sudah seharusnya orangtua mulai menyadari bahwa merekalah yang harus mengajarkan perihal seks pada anak.

3. Berbahaya apabila terlalu dini membicarakan seks pada anak, anak semakin banyak tahu semakin berbahaya.

Orangtua takut kalau membicarakan seks terlalu dini, anak menjadi dewasa terlalu cepat dan terdorong mencoba aktivitas seksual sebelum waktunya. Perlu disadari semua anak pasti memiliki rasa ingin tahu tentang seks, yang membedakannya apakah orangtua atau lingkungannya yang akan memenuhi rasa ingin tahu tersebut. Lingkungan acapkali memberikan pengenalan seks yang kurang sehat, seperti: komik, film, dan games dengan unsur sensual lewat pakaian, percintaan, dan aktivitas seksual. Sebetulnya hal yang perlu dipikirkan adalah bagaimana cara memberikan pemahaman seks kepada anak. Apabila orangtua belum menguasai perihal seks mereka dapat membaca buku, konsultasi dengan konselor anak atau psikolog.

4. Anak akan mengetahui perihal seks dengan sendirinya.

Hasil survei Kaiser Family Foundation “43 % anak ingin tahu kapankah waktu yang tepat untuk melakukan hubungan seks dan 50% orangtua tidak pernah membicarakan hal tersebut kepada anak.”(www.talkwithkids.org). Hal ini menunjukkan bahwa anak perlu membahas perihal seks degan orangtuanya. Apabila tidak! Jangan kaget mereka akan membicarakannya dengan orang-orang yang kurang terpercaya, seperti; pembantu, supir, teman, atau orang asing.

 5. Sebaiknya tidak membicarakan seks karena saya dan anak sama-sama tidak nyaman.

Jangan menghindari ketidaknyamanan untuk membicarakan perihal seks. Orangtua haruslah proaktif dalam menciptakan atmosfir yang nyaman. Kenyamanan ini dapat diawali dengan orangtua belajar merasa nyaman terlebih dahulu dalam membahas perihal seks dengan pasangannya.

6. Takut salah mengajarkan seks, jadi lebih baik tidak membahasnya.

Wajar bila orangtua merasa takut salah dalam membahas perihal seks. Namun, bukan berarti tidak membahasnya sama sekali, melainkan orangtua perlu meningkatkan pemahamannya mengenai pendidikan seks yang sehat dan belajar membicarakan perihal seks kepada anak secara baik hari demi hari.

Perkembangan kehidupan seks anak dipengaruhi oleh pandangan dan pemahaman orangtua terhadap seks itu sendiri. Perubahan dan bertambahnya pemahaman orangtua tentang seks akan berpengaruh secara langsung kepada kehidupan seks anak.

 

 

Comments are closed.